Senin, 08 November 2010

Teologi

 Gambaran Tentang Yesus Kristus Dalam Upacara Liturgi Malam Paskah
Ryan Dagur
1. Pengantar
            Peristiwa kebangkitan adalah peristiwa yang amat menentukan sebagai penegasan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah, yang berkuasa atas maut. Kebangkitan adalah puncak peristiwa Yesus sekaligus landasan bagi iman orang Kristen. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Santo Paulus “Jika Kristus tidak mati, maka sia-sialah iman kita (1 Kor 15:14)”. Dengan peristiwa kebangkitan, Yesus mendapat pengakuan sebagai Tuhan yang menyelamatkan, bukan hanya sekedar tokoh moral tetapi sekaligus Penyelamat.  Lewat peristiwa tersebut Allah membenarkan apa yang dahulu dikatakan dan dilakukan Yesus semasa hidup-Nya. Sudah sebelum wafat-Nya Yesus “mengajar ... sebagai orang yang berkuasa, tdak seperti ahli-ahli Taurat” (Mark 1: 22). “Dalam arti inilah Yesus Kristus kita sebut sebagai sebagai satu-satunya perantara kita, karena dengan kebangkitan-Nya Ia mengalahkan kematian sekaligus memegang kuasa atas kehidupan kekal; kuasa yang diserahkan oleh Allah, Bapa Surgawi”.[i]
            Dalam tradisi gereja, peristiwa kebangkitan Yesus Kristus dikenangkan dalam upacara Malam Paskah. Malam Paskah merupakan malam untuk memperingati malam suci saat Tuhan beralih dari kematian menuju kemuliaan-Nya.[ii] Tulisan ini akan mencoba melihat gambaran tentang Yesus Kristus dalam keseluruhan tata liturgi Malam Paskah. Pertanyaan yang hendak dijawab disini adalah; Gambaran Yesus seperti apakah yahng dirayakan dalam liturgi Malam Paskah?           
2. Liturgi Malam Paskah dan gambaran tentang Yesus Kristus       
            Upacara liturgi Malam Paskah terdiri dari 4 bagian, yaitu (bagian I) upacara cahaya dan madah Paskah (Exultet), (bagian II) liturgi sabda, (bagian III) upacara pembabtisan dan (bagian IV) liturgi ekaristi. Tentang gambaran pribadi Yesus, dapat dilukiskan dari peran-Nya sebagai Cahaya Dunia, yang secara simbolis mewujud dalam lilin paskah dan juga gambaran pribadi Yesus sebagai puncak karya keselamatan Allah yang kita pahami dari keseluruhan bacaan kitab suci pada Malam Paskah.

2.1 Yesus Sebagai Cahaya Dunia
            Lewat upacara cahaya yang mengawali seluruh rangkaian tata liturgi Malam Paskah, gereja secara simbolis mau menunjukkan diri Yesus Kristus sebagai pembawa harapan, terang bagi umat beriman yang sedang diliputi suasana kegelapan dan duka cita karena kematian Yesus.  Jawaban umat “Deo Gratias” (Syukur kepada Allah) terhadap seruan “Lumen Christi” (Cahaya Kristus) di tengah kegelapan ruangan gereja merupakan ekspresi syukur umat atas sukacita kebangkitan.
            Upacara cahaya mengingatkan orang beriman akan kata-kata Kristus sendiri dalam Yoh 8:12; “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup”. Lilin Paskah adalah simbol Kristus yang adalah cahaya duna. Lilin paskah juga merupakan sebuah gambaran tentang kehadiran Allah yang menerangi orang Israel. “Seperti putera-puteri Isarael dibimbing oleh tiang api, demikian pula orang-orang Kristiani pada gilirannya mengikuti Kristus dalam kebangkitan-Nya (bdk. Kel 13: 21).[iii]
            Dalam tata liturgi Malam Paskah, setelah prosesi lilin Paskah dalam gereja, dan lampu-lampu dinyalakan, kemudian dilanjutkan dengan “Exultet” (Madah Pujian Paskah). Exultet menggemakan tindakan penyelamatan Allah bagi umat Israel dari perbudakan di Mesir dan memberi mereka pembebasan  melalui penyeberangan laut Merah. Tindakan penyelamatan Allah ini menjadi simbol misteri paskah Kristus yang diungkapkan dalam teks dengan pujian, sampai akhirnya mengarah pada madah yang mengagumkan: “ Bapa...betapa besar cinta-Mu bagi kami. Tak ternilai cinta kasih-Mu. Oh… dosa yang membahagiakan (felix culpa). Bahwasannya perlu dosa Adam untuk memperoleh Kristus, yang dengan wafat-Nya meniadakan dosa itu.... Sungguh berbahagialah malam ini”. Sekali lagi, ditegaskan bahwa melalui upacara cahaya Yesus Kristus yang dilambangkan dengan cahaya lilin, ditampilkan sebagai pribadi yang membawa terang bagi orang beriman yang sedang diliputi kegelapan dan dukacita dan dalam Exultet ia dimaklumkan  sebagai pembawa harapan baru .

2.2. Yesus Kristus sebagai penyelamat
            Perihal gambaran diri Yesus sebagai penyelamat, kita dapat menemukannya dari kesaksian bacaan-bacaan Kitab Suci yang menjadi bagian dari liturgi sabda dalam Malam Paskah. Ada sembilan bacaan--tujuh dari Perjanjian Lama dan dua dari Perjanjian Baru (Surat-surat dan Injil)--yang dibacakan.. Untuk alasan pastoral, jumlah bacaan dari Perjanjian Lama dapat dikurangi minimal menjadi dua bacaan, tetapi ada satu bacaan yang wajib dibacakan yaitu kisah tentang penyeberangan Laut Merah karena bacaan tersebut menjadi inti dari Paskah Yahudi. Setiap bacaan diselingi dengan lagu dan doa singkat dalam suasana hening.[iv]
            Semua bacaan yang diperdengarkan memperlihatkan sebuah drama karya  agung yang dilakukan Allah pada umat-Nya sejak semula. Karena itu, bacaan pertama dimulai dengan kisah penciptaan yang hendak menampilkan Allah yang mengawali karya penyelamatan-Nya dengan menciptakan, menghidupi sekaligus menempatkan manusia dalam sebuah dunia yang telah ditata secara baik (Kejadian 1:1-2:2 Penciptaan). Dalam perjalanan waktu, relasi antara Allah dengan manusia tidak berjalan sebagaimana mestinya, seperti yang dikehendaki Allah sejak semula. Manusia jatuh ke dalam dosa. Namun Allah kemudian membuat perjanjian dengan umat-Nya yang diwakili oleh Abraham (Kejadian 22:1-18; Kurban Abraham)
            Berhadapan dengan manusia yang tidak lagi mau bersekutu dengan Allah, Ia tetap memilih untuk membebaskan umat pilihan dari Mesir (Keluaran 14:15-15:1;  Bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir). Proses pembebasan Umat Israel dari Mesir yang menyeberangi Laut Merah, memperlihatkan gambaran tentang Allah yang mau menuntut pengabdian eksklusf umat-Nya. Inilah salah satu jawaban terhadap pertanyaan tentang siapakah Allah orang Israel yang sebenarnya.
            Relasi antara Allah dengan manusia senantiasa memperlihatkan kontradiksi. Di satu sisi Allah tetap dan senantiasa mencintai manusia, tetapi di sisi lain manusia selalu lebih memilih menjauh dari Allah. Namun, ternyata dari kesaksian Perjanjian Lama, kita boleh mengatakan bahwa semakin manusia itu berbuat dosa, semakin besar pula kasih Allah. Hal itu menjadi kelihatan dengan diutusnya nabi-nabi yang hendak memaklumkan kehendak Allah sendiri. Di sini, semakin jelas gambaran tentang Allah yang adalah kasih  (Yesaya 54:5-14; Allah berbicara kepada bangsa Israel yang menderita dan tertindas, Yesaya 55:1-11; Perjanjian Allah dengan Israel--Janji Allah yang indah, Barukh 3:9-15,32-4:4; Hikmat Allah, Yehezkiel 36:16-28; Janji-janji Allah kepada Yehezkiel--semua digenapi dalam Yesus Kristus).
            Puncak dari karya keselamatan Allah akhirnya terjadi dalam peristiwa Yesus. Allah berkenan mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk datang menyelamatkan manusia. Peristiwa Yesus (pribadi, karya, pewartaan, sengsara dan wafat-Nya) memperlihatkan gambaran tentang Allah yang dengan cinta yang tak bersyarat mau merangkul manusia yang berdosa. Sentralitas peristiwa kebangkitan Yesus, tentu saja terdapat dalam tindakan Allah yang mau menghidupkan Yesus—dengan membangkitkan Yesus, Allah mengoreksi apa yang dibuat oleh mansusia (tindakan penyaliban Yesus) sekaligus menegaskan bahwa Dia-lah yang berkuasa atas maut. Perlu ditegaskan lagi di sini bahwa kebangkitan Yesus merupakan suatu bukti bahwa Ia yang adalah Mesias, Penyelamat, yang berkuasa atas maut dan Ia sekaligus  menjanjikan bagi manusia suatu kehidupan baru kelak. Kehidupan baru itu dialami ketika kita ikut bangkit bersama Dia.

3 Penutup
          Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa, dalam upacara liturgi Malam Paskah, diperlihatkan kepada kita sebuah karya Allah yang karena kasih-Nya selalu mau merangkul manusia. Karya Allah itu dimulainya dalam karya penciptaan, lewat pembebasan orang Isarel dari Mesir, pengutusan para nabi dan kemudian berpuncak dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah pemenuhan janji Allah bagi umat manusia. Tindakan penyelamatan Allah mendapat meterainya melalui peristiwa kebangkitan Kristus. 
            Dengan membangkitkan Yesus, Allah mengoreksi apa yang diperbuat manusia terhadap Yesus. Yesus Kristus pewartaan dan praksis hidup-Nya dibenarkan oleh Allah. Kepada Yesus Kristus dan hidp-Nya Allah menganugerahkan masa depan.  Demikian pula klaim eskatologis yang dinyatakan benar, bahwa kasih Allah, Allah sendiri dalam diri dan hidup-Nya bertindak dan hadir. Allah mewahyukan diri sebagai Deus humanissimus, sebagai kasih tanpa syarat yang membebaskan. Dengan kebangkitan Yesus Allah menyatakan diri sebagai yang berkuasa atas maut, yang mampu menganugerahkan masa depan bahkan bagi mereka yang sudah mati. Dalam liturgi Malam Paskah refleksi-refleksi tersebut diungkapkan, dan Yesus Kristus adalah tokoh sentralnya.

Daftar Pustaka
Adolf Adam. 1978. The Liturgical Year: its history and its meaning after the reform of the        liturgy. New York: Pueblo Publishing Company
DokPen KWI. 2005. Perayaan Paskah dan Persiapannya (Seri Dokumen Gerejawi       No.71). Jakarta: KWI
Komisi PSE/APP-KAJ. 2009. Mari Bekerjasama Melawan Kemiskinan: Perjalanan         Rohani Menanti Kebangkitan.. Jakarta: KWI.
Komlit KWI. 2006. Pekan Suci: Buku umat (edisi revisi). Jakarta: KomLit KWI.


[i] Komisi PSE/APP-KAJ, “Mari Bekerjasama Melawan Kemiskinan”: Perjalanan Rohani Menanti Kebangkitan, Jakarta, KWI, 2009. hal. 161.
[ii] Malam Paskah dalam liturgi Gereja disebut “Sabtu Suci” atauu juga “Vigili Paskah”. Istilah “vigili” berasal dari bahasa Latin “Vigilis”, yang berarti “Berjaga-jaga, siap siaga”. Dengan demikian, Vigili Paskah berarti berjaga bersama Yesus Kristus yang beralih dari kematian menuju kebangkitan. Lih, Komlit KWI, Pekan Suci: Buku umat (edisi revisi), Jakarta, KomLit KWI, 2006, hal.86.
[iii] Adolf Adam, The Liturgical Year: its history and its meaning after the reform of the liturgy, New York, Pueblo Publishing Company, 1978, pg. 79.
[iv] Adolf Adam, op.cit, pg. 80

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comments